Jumat, Oktober 07, 2011

Flashback

Untuk Papa,

Pa, mungkin anak bungsu Papa yang cerewet, banyak tanya, banyak protes, banyak membantah, aksen bicara seperti anak-anak, suara cempreng, berlesung pipi yang tidak proporsional dengan ukuran badan, mata kecil yang agak sipit, mulut kecil, dan jari-jari panjang ini sangat rindu pada Papa. Sudah sangat sering akhir-akhir ini Papa ke luar kota menjadi tutor untuk sebuah universitas, bolak-balik ke Payakumbuh, Painan, Sawahlunto, Bukittinggi, Pariaman, dan daerah lainnya. Pa, hanya seragam sekolah Riri yang putih abu-abu, hanya lambang sekolah Riri yang lambang SMA, dan hanya kelas Riri yang kelas XI, tapi anak bungsu tetaplah anak bungsu. Orang bilang anak bungsu itu manja, mungkin Riri memang manja, tapi apa salah bila Riri sangat rindu untuk kembali seperti dulu? Seperti dulu waktu belum berumur 5 tahun, Riri selalu menggenggam jempol Papa dengan genggaman penuh jari-jari yang masih mungil bila berjalan dengan Papa. Dulu, waktu Papa masih sanggup menggendong Riri dengan berat badan yang hanya sepersekian dari berat Papa. Tapi, sebenarnya bukan digendong atau hal yang lain yang Riri inginkan. Saat ini tentu tidak mungkin lagi Papa bisa menggendong Riri yang sekarang sudah lebih 40 kg, yang bila kita berjalan tinggi Riri sudah hampir sama dengan Papa.

Dari kecil, walaupun Riri anak bungsu tapi Papa dan Mama tidak pernah terlalu memanjakan Riri, Uda, Uni sekalipun. Riri masih ingat bahwa cuma Riri-lah satu-satunya murid SD yang dijemput orangtua tapi orangtuanya tidak membawakan ransel anaknya. Papa dan Mama membiarkan Riri bertanggungjawab dengan apa yang seharusnya jadi tanggungjawab Riri. Sekarangpun, Riri juga tidak mau Papa menjemput ke sekolah lalu membawakan ransel yang berisi buku bilingual dan buku-buku tulis itu di tangan kanan Papa, dan tupperware kosong Papa jinjing di tangan kiri.

Papa mungkin tidak pernah tau bahwa Riri sangat ingin menguasai ilmu sains dasar dengan keidiotan, kecerobohan, dan pelafazan sedikti cadel kata-kata yang mengandung huruf R dan L yang bila sangat banyak dalam satu kata ini, Riri sangat ingin pintar bercakap di muka umum dengan aksen bicara seperti anak-anak ini, Riri sangat ingin memberi pengaruh yang sangat besar kepada orang lain melalui kata-kata sederhana yang Riri ucapkan dengan suara yang agak cempreng ini, Riri sangat ingin mahir bernyanyi dengan suara yang sulit menjangkau nada rendah ini, Riri sangat ingin pintar memainkan peran dengan perawakan anak yang masih kecil ini, Riri sangat ingin menguasai komputer dan segala hal di dalamnya dengan kemalasan ini, Riri sangat ingin lancar berbahasa Inggris dengan kemalasan membaca dan mengucapkan bahasa Inggris, Riri sangat ingin bisa menjadi tempat curhat orang lain dengan pemecahan masalah yang sering macet ini, Riri sangat ingin menjadi orang yang sangat penting tanpa kesombongan dan keangkuhan. Tanpa Riri sadari, Riri sudah menarsiskan diri Riri sendiri agar jadi mirip dengan Papa.

Pagi-pagi sekali, sesaat sebelum adzan Shubuh Riri sudah terbangun, yang pertama kali Riri cari adalah Papa, karena rasanya sudah sangat lama tidak bercengkrama dengan Papa. Dalam bincang-bincang singkat yang sangat melegakan itu, Riri iseng membuka percakapan dengan topik Kelapa Dinas baru atau sekedar menanyakan sebuah Negara. Karena terlalu rindu pada Papa, anakmu ini Pa sudah lupa yang mana Timur dan yang mana Barat, sudah lupa dimana letak Indonesia di peta dunia, lupa mencuci seragam yang akan dipakai untuk esok hari, lupa mengumpulkan buku, lupa tujuan melangkah ke sekolah. Pa, di sekolah Riri memang dididik untuk jadi sukses, tapi di sekolah tidaklah pernah Riri dididik untuk jadi pribadi yang sukses, berbagai motivasi yang Riri dapat dari Papa lah yang secara tidak langsung mendidik Riri untuk jadi pribadi yang sukses.

Hanya satu persaman yang kita miliki, yaitu hidung. Pagi-pagi sebelum keluar dari kamar, bila tau hari itu Papa keluar kota lagi, Riri selalu berdiri menatap diri di cermin lemari, menarik-narik hidung yang rasanya tidak akan jadi panjang ini. Biasanya bila Papa ada di rumah, Riri bisa melihat hidung yang sama tanpa harus berhadapan dengan cermin terlebih dahulu, dan sesungguhnya kehadiran Papa itu yang sangat Riri rindukan.

Kehadiran Papa tidak pernah sia-sia, melalui canda tawa, perkataan serius, atau kata-kata sederhana pun Papa bisa menyampaikan kasih sayang dan nasihat-nasihat untuk anak-anak Papa. Riri tidak menyalahkan pekerjaan Papa sebagai tutor itu, tapi Riri hanya ingin punya satu waktu yang sangat berkualitas dengan Papa, Mama, Uda, dan Uni dengan interval waktu yang teratur. Pa, semoga setelah ini Riri punya banyak waktu dengan Papa, Mama, Uda, dan Uni.

_si bungsu yang tidak punya air mata_

Sabtu, Agustus 20, 2011

PESANTREN

Pesantren, pe+e es+a datang en diselipin te er+e datang en jadi BOSAN. Pesantren tahun ini memang gak mungkin dibilang pesantren kilat, mana mungkin 20 hari itu dibilang kilat. Ya, kilat sih kilat kalau dibandingin sama jumlah hari setahun, tapi kan pesantren cuma di bulan Ramadhan dan jumlah harinya cuma 30 paling maksimal. Di Padang, pesantren selama bulan Ramadhan ini memang sudah biasa, kalau gak salah udah 8 tahun berlalu. Kalau gak ikut pesantren gimana? Gak gimana-gimana sih palingan cuma gak bisa terima rapor waktu akhir semesteran. Nye?sek, yep.

Rasanya udah lama gak ngepost sesuatu di blog ini. Kangen juga. Maklum lagi sibuk. Bulan Ramadhan ini harusnya menyenangkan kalau gak ada pekerjaan rumah yang kepanjangannya PR (kebalik -_-), jadi menyedihkan ditambah dengan pesantren. Masa pesantren terakhirnya tanggal 25? Oh haha lucu sekali, cuma dapet libur 4 sebelum Lebaran, miris.

Anehnya pesantren tahun ini yaitu, ada pertukaran jadwal! Heh, kebijakan macam apa itu, gak semua orang bisa dengan mudah menyesuaikan diri haha. Enakan pesantren subuh, biar bisa tidur habis pesantrennya. Nah, ini pesantren jam 9, mikir gak sih gimana mau tidurnya? Tidur habis subuh paling cuma dapet 2 jam, dan malangnya seseorang yang bernama Riri ini minimal tidurnya itu 4 jam (kayak kebo aja). Alhasil, ngantuk-ngantukan deh waktu pesantren. Maaf ya pak buk, tuntutan mata  

#Hal pertama
Entah hari apa gak inget juga, yang penting hari itu lagi pesantren. Lagi asik-asiknya ngafal arti An-Naba' samar-samar kedengeran musik gaje alias gak jelas alias gak penting alias sok penting alias ngeselin alias super duper gak tau malu! What the ---- Ini yang muter musik otaknya belum diangkat dari jemuran kali, tau mesjid malah muter lagu yang malu-maluin, dangdut remix yang gak jelas, somplak banget

#Hal kedua
Di hari yang berbeda, anak-anak pesantren di sini dibikin kaget sampe sesak nafas trus jantungan (gak segitunya) sama salah satu instruktur yang bilang kalau kita harus pake irama muratal buat nyetor ayat
Semua siswa langsung protes-protes kecil, ya iyalah kan pesantrennya cuma tinggal beberapa hari lagi, sedangkan setoran masih banyak yang belum.

Jumat, Mei 06, 2011

Jum'at

Sedikit curhat, hari ini rasanya campur aduk. Mulai daritadi pagi, bangun telat sekitar pukul 05.15 yang biasanya pukul 05.00 udah melek. Bangun trus langsung samber handuk dan terbang ke kamarmandi buat sarapan mandi dan lain-lain, habis itu shalat shubuh dan siap-siap pergi ke sekolah. Pukul 06.08 baru selesai, oke langsung pamit dan cabut dan nyampe di simpang, waktunya menunggu angkot -_- Eh gila, padahal udah lebih 15 menit tapi angkot pada penuh semua, jengjeeeeng akhirnya dapat angkot juga. Alhamdulillah gak telat :D

Begitu sampai di sekolah dengerin kultum Jum'at baru ke kelas. Baru beberapa detik duduk di kelas, ada kakak-kakak kelas datang, pertama nanyain ketua kelas, gak ada, terus wakil dan seterusnya ke sekretaris juga gak ada, akhirnya yang ada cuma bendahara, nah dipanggil deh dia. Ternyata, dia balik ke dalam membawa berita yang agak buruk. Kami disuruh ngebersihin ruang 207 yang kemaren (hari Kamis) kami pake, dan ternyata kami adalah kelas terakhir yang make kelas itu kemaren -________________- Sebelumnya yang make kelas itu kelasnya Cica, Fioni, dll waktu kami masuk, wah wah emang sih dimana-mana ada potongan-potongan kecil karton-karton dan kertas-kertas yang gak jelas. Kursi-kursi dan meja-meja disana pun berantakan banget. Nah, kakak-kakak kelas tadi gak terima kelas mereka dikotorin gitu, sedikit kesel juga sih disuruh ngebersihin itu kelas, tapi ya gimana kelas kami ya bertanggungjawab aja karena kami yang make kelas itu terakhir.

Sedikit cerita lagi, rasanya kami kalau mau make kelas walaupun kelas itu kotor kami berswadaya aja untuk ngebersihinnya, kami gak pernah nyari kelas mana sebelumnya yang make kelas itu, bukan bermaksud sombong atau gimana. Tapi sudah terjadi, ya hitung-hitung gotong royong :D dan menolong hehe

Lalu, jadwal hari Jum'at ini yang pertama adalah English berhubung karena Miss-nya ke Malay jadi rasanya agak bosan dikit sih, walaupun ada Miss Marin (kalau gak salah) dari Germany tapi sumpah deh gak ngerti apa yang dia bilang soalnya dia ngomong Inggris pake logat Jerman. Oh god! Geleng-geleng, angguk-angguk aja di belakang sambil nguap-nguap dikit. Berlanjut ke seni di lantai tiga, sebelum itu ke kantin dulu deh buat beli makanan. Beli nasi ayam goreng balado plus air mineral habis itu langsung bertolak ke lantai tiga. Ampuuuun, capek banget! Kaki rasanya mau copot -,- lebay ah. Guru seni pun juga ke Malay HAHAHAHA habis seni dilanjutkan dengan Kewarganegaraan, apaan sih pr kok ngisi Lks? Kurang setuju sih, apalagi materinya belum dijelasin grrrr. Jam Kwn habis, saatnya untuk para siswa-siswa melaksanakan shalat Jumat.

Selanjutnya belajar Biologi, udah berprasangka bapaknya gak hadir, dan yes beneran gak dateng. Sebelum jam Biologi mulai, dan sebelum istirahat usah nyempatin ke kantin buat beli ice cream hehe. Tapi, apa akibatnya? Kantong Jebol! Ternyata hari ini udah banyak banget jajan -,- Lalalalalaa. Gak tau kenapa juga, akhir-akhir ini yang ada di pikiran itu cuma makan, makan, dan makan. Istirahat usai dan jam Biologi dimulai tanpa guru.

Teeeeeeeeet

Yap, saatnya pulang! Hurraaaaaaaaaaaaaaaay

Sampai di rumah langsung ganti baju, hidupin komputer, hidupin modem dan langsung ONLINE HAHAHA pelampiasan nih, soalnya udah berapa hari gak ol di kompi -_______-

Hari ini cuma itu doang, ini postingan terfrontal yang pernah di post maaf curhat di sini, soalnya gak tau mau curhat sama siapa. Thanks

Minggu, Maret 27, 2011

Cabang-cabang Ilmu Biologi

Jangan sangka karena postingan ini ada yang ngejudge aku mencintai biologi. Sebenarnya ini sepersekian dari kisi-kisi Ujian Semester I kemarin. Semoga bermanfaat, untung-untung kalau ada yang baca ><


Cabang-cabang Ilmu Biologi :
1. Anatomi : ilmu biologi yang mempelajari seluk beluk susunan tubuh makhluk hidup
2. Apiari : ternak lebah
3. Anatesi : operasi atau pembedahan
4. Algologi : alga
5. Ammalia : heterotrofik
6. Andrologi : alat kelamin
7. Antropologi : manusia dan perkembangannya
8. Artologi : perkembangan tulang atau sendi-sendi
9. Bakteriologi : ilmu biologi yang mempelajari seluk beluk bakteri dan kehidupannya
10. Botani : ilmu biologi yang mempelajari seluk beluk tumbuhan dan kehidupannya
11. Bryologi : lumut
12. Bioteknologi : cabang biologi modern
13. Dendrologi : pohon dan tanaman berkayu
14. Dastroologi : sel-sel pencernaan
15. Dermatologi : penyakit kulit
16. Ekologi : ilmu biologi yang mempelajari seluk beluk makhluk hidup dan lingkungan alam tempat tinggalnya (habitat)
17. Embriologi : ilmu biologi yang mempelajari seluk beluk perkembangan suatu organisme semenjak berbentuk telur hingga menjadi embrio
18. Entomologi : ilmu biologi yang mempelajari serangga beserta kehidupannya
19. Evolusi : ilmu biologi yang mempelajari perkembangan makhluk hidup mulai dari bentuk yang sederhana hingga yang kompleks
20. Entomologi : serangga
21. Emtomologi : insekta
22. Endokrinologi : hormon
23. Enzimologi : enzim
24. Endokrinologi : kelenjar endokrin
25. Epidemiologi : penyakit menular
26. Fisiologi : ilmu biologi yang mempelajari proses serta kegiatan yang dilakukan oleh makhluk hidup
27. Fikologi : mempelajari tentang alga
28. Fenologi : iklim
29. Fitokimia : senyawa kimia pada sel tumbuhan
30. Fitogeografi : tumbuhan dan persebarannya
31. Fotobiologi : pengaruh cahaya dalam sel hidup
32. Genetika : ilmu yang mempelajari penurunan sifat suatu makhkluk hidup kepada keturunannya
33. Higien : ilmu biologi yang mempelajari pemeliharaan kesehatan manusia
34. Histologi : ilmu yang mempelajari susunan serta fungsi bagian-bagian yang ada pada jaringan makhluk hidup
35. Herpetologi : reptilia dan amfibia
36. Iktiologi : ikan
37. Imunologi : imun/ kekebalan tubuh
38. Karsinologi : crustacean
39. Kardiologi : jantung dan pembuluh darah
40. Limnologi : rawa
41. Mikrobiologi : ilmu biologi yang mempelajari organisme renik (mikro) serta kehidupannya
42. Mikologi : mempelajari jamur, kapang dan ragi
43. Malakologi : moluska
44. Mirmekologi : rayap
45. Mamologi : mamalia
46. Morfologi : struktur luar organisme
47. Nematologi : nematoda/ cacing gelang
48. Neurologi : menangani penyimpangan pada sistem saraf
49. Neuropathologi : penyakit saraf
50. Ornitologi : unggas
51. Organologi : penyakit pada organ
52. Onkologi : kanker dan cara pencegahan
53. Odontologi : penyakit pada gigi
54. Osteologi : penyakit tulang
55. Otologi : telinga
56. Palaentologi : ilmu yang mempelajari kehidupan makhluk hidup di masa lalu serta kehidupannya dengan mempelajari fosil yang berasal dari masa lampau
57. Parasitologi : ilmu yang mempelajari parasit
58. Pteridologi : mempelajari tentang pakis
59. Primatologi : primata
60. Paleobotani : tumbuhan di masa lampau
61. Patologi : penyakit dan pengaruhnya terhadap organisme
62. Phylogeni : perkembangan makhluk hidup dari bentuk tidak sempurna sampai sempurna
63. Protozoologi : protozoa
64. Pulmonologi : paru-paru
65. Palinologi : benang sari pada bunga tumbuhan
66. Patologi : perubahan keadaan badan karena penyakit
67. Penakologi : tumbuhan berbunga
68. Paenomenologi : gejala-gejala penyakit
69. Rodentiologi : rodentia
70. Rekayasa Genetika : manipulasi sifat genetik
71. Radiologi : melihat bagian dalam tubuh manusia menggunakan pancaran atau radiasi gelombang, elektromagnetik maupun mekanik
72. Sitologi : ilmu biologi yang mempelajari susunan serta fungsi bagian-bagian yang ada pada sel makhluk hidup
73. Sanitasi : kebersihan lingkungan dan kesehatan
74. Sarkologi : bagian-bagian tubuh yang lunak
75. Serologi : serum
76. Taksonomi : pengelompokkan makhluk hidup
77. Terratologi : kelainan atau cacat embrio dalam masa kandungan
78. Virologi : ilmu biologi yang mempelajari virus
79. Zoologi : ilmu yang mempelajari hewan serta kehidupannya

Rabu, Maret 09, 2011

IA MATI (puisi galau -,-)

Kemarin malam ada yang mati
Ketika pekat malam
Serta badai galau bergelombang

Kemarin malam ia memang mati
Saat pujangga melagukan tembang untuk cintanya
Ia membeku, hanya mati

Kemarin malam rasanya tercabik
Bagai terlunta-lunta tiada guna
Kemarin malam dalam hati
Berkata mati, lalu mati
                                                                _Vidol_
                                                          March 08 2011

Selasa, Maret 08, 2011

As well as this one

Pernah ngerasain lagi galau banget? Atau kalut? Mungkin lagu Judika yang satu ini cocok buat sekadar nemenin kegalauan, yeah like what I feel now. Check this guys http://www.4shared.com/audio/TtR2YeBh/Judika_-_Bukan_Dia_Tapi_Aku.html

Berulang kali kau menyakiti
Berulang kali kau khianati
Sakit ini coba pahami
Ku punya hati bukan tuk disakiti

Ku akui sungguh beratnya
Meninggalkanmu yang dulu pernah ada
Namun harus aku lakukan
Karena ku tahu ini yang terbaik

Ku harus pergi meninggalkan kamu
Yang telah hancurkan aku
Sakitnya, sakitnya, oh sakitnya

Cintaku lebih besar darinya
Mestinya kau sadar itu
Bukan dia, bukan dia, tapi aku

Begitu burukkah ini
Hingga ku harus mengalah

Cintaku cintaku
Lebih besar dari benciku lebih besar dari benciku
Cukup aku yang rasakan
Jangan dia jangan dia
Jangan dia jangan dia cukup aku

Jangan dia jangan dia cukup aku
Jangan dia

Minggu, Januari 02, 2011

Sekilas tentang teman-teman baikku

Aku punya beberapa orang teman baik, berikut sekilas tentang mereka! Mulai dari yang pertama kali mengecap kehidupan bumi ya




1.      Sakinah
            Cewek yang satu ini punya nama yang simple, ya cocoklah dengan kepribadian orangnya, simple, agak cuek, dan kadang-kadang jutek. Sering jadi tempat curhat hehe, orangnya cukup dewasa, tapi kadang-kadang kalau lagi curhat dia mah ngetawain curhatan aku -_____________-. Sakinah, atau yang lebih akrab dipanggil Ana ini lahir 24 Desember 2010, nah loh? Eh bukan, 1994 maksudnya.2 tahun sekelas sama Ana bikin kami jadi deket, dan kebetulan rumah kami searah yaitu di Lubuak Buayo, jadi sering pulang bareng deh. Karena beda sekolah, aku jadi sering kangen Ana jiahahaa. Kadang-kadang sih heran juga, soalnya Ana tu betah banget buat bikin cerpen (baca: cerita pendek) kapanpun dan di manapun dia mau.Wah wah, tapi gak heran juga kalo cerpen ala Sakinah ini asik banget buat di baca, menyenangkan.

2.      Hana Nadia
            Dua hari setelah mengacap kehidupan bumi, lahirlah Hana ke bumi, jeng jeng jeengg. Yap Hana Nadia yang kalau malam Jumat dipanggil Mala (usulan Fioni), kalau hari Jumat dipanggil Wer, dan kalau hari sabtu dipanggil Ngak. Kenapa panggilan Hana banyak sekali? Wehehe ini berawal dari bincang-bincang gaje kami. Kata Fioni kalau malam Jumat Hana itu berubah menjadi Mala, alias Mak Lampir. Nah kenapa hari Jumat dia dipanggil Wer? Karena di sekolah kami, setiap hari Jumat itu english day jadi semua siswa harus berbicara menggunakan bahasa Inggris, berhubung 'hana' dalam bahasa Jepang artinya bunga dan apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi 'flower' agar menjadi menarik kami hanya memanggil 3 huruf belakang dari kata tersebut, yaitu Wer. Lalu bagaimana dengan hari Sabtu? Karena waktu itu event Greats (berhubungan dengan Jepang) diadakan pada hari Sabtu, maka 'hana' yang dalam bahasa Indonesia berarti bunga kami jadikan panggilan untuk Hana, tapi kami berandai-andai bila ada orang Sunda yang menyebut 'bunga' pasti akan menjadi 'bungak' jadi kami gunakan 4 kata terakhir untuk memanggil Hana pada hari Sabtu. Ngak.

            Satu hal lagi tentang Hana, kabarnya semua cowok yang dia suka atau mantannya itu berinisial E. Jadi hati-hati deh sama para lelaki yang berinisial E, manatau Hana naksir huahaha. Eh ada lagi, tau ga total cowok yang ditaksir Hana sampai waktu MOS kemaren udah sekitar 21 atau 23 oranglah (ga inget juga-.-) banyak yaa

3. Muthia Aulia Rahmah
           Muthia, atau yang lebih akrab disapa 'moek' ini orangnya lucu banget. Setelah tamat SMP, Moek adalah salah satu yang jarang ikut ngumpul. Saking kangennya, kalau ketemu rasanya pengen ditonjok-tonjok, di cubitin gitu haha melampiaskan, gitu deh -,-

           Moek pinter ngegambar loh, dia nurunin banget bakat Ayahnya, ayahnya kan dosen Sendratasik. Waktu itu kan belajar seni, trus disuruh bikin gambar pohon eh kiranya waktu minggu depan dikumpulin, gambar pohon Moek yang paling bagus. Dia bikin gambar pohon yang udah tua, jadi udah agak keriput gitu, cabangnya ada 2 tapi yang satu paling bawah udah dipotong, pokoknya keliatan kayak asli banget. Yakin deh, Moek pasti pinter ngelukis.

           Satu hal yang ada di Moek tapi gak ada sama teman-teman yang lain, kalau aku sakit kepala Moek-lah satu-satunya orang yang bersedia mukul-mukulin kepala aku, karena kalau lagi sakit kepala di sekolah ya cuma itu satu doang obatnya :D Semenjak SMA kalau sakit kepala gak ada lagi yang mukul-mukul kepalaku, jadi ditahan aja atau pukulin sendiri -__________-

4. Muthia Rahmadhani
           Muthia Rahmadhani juga jarang ngumpul, mungkin karena jadwal Imut, sapaan cewek tinggi satu ini. Dari sekian teman-teman dekat yang ada, Imut-lah yang beda sekolahnya jadi paling susah nyamain jadwal buat ngumpul sama Imut.

           Kangen banget sama Imut, soalnya dulu waktu SMP kita deket banget, mulai dari semester II kelas IX kita sebangku terus, pokoknya duduknya gak pernah jauh. Habis, asik sih ngobrol sama imut nyambung gitu dan kadang pemikiran kami sama. Bahkan kadang mood kami juga sama hehe.

           Dulu waktu pertama kali liat Imut gak pake jilbab rasa-rasanya mirip sama Widi-Vierra eh ternyata setelah diliat-liat gak mirip :D Masih inget juga waktu bikin asinan kedondong di rumah Imut yang dibantuin sama mamanya, kami takut tuh kalau asinannya gak enak ternyataaaaaaa enak bangeeeet anak-anak sekelas pada ketagihan sama kedondong kami waw!

Sabtu, Januari 01, 2011

Nyasar ke Tujuh Satu

Walaupun sekarang udah jadi anak SMA gapapa dong sedikit flashback ke masa lalu yang cukup konyol? Dulu aku SMP-nya di SMP N 7 Padang. Aku duduk di kelas TUJUH SATU, kelas yang kata orang-orang unggul, tapi kayanya engga deh soalnya kalo iya kenapa aku bisa duduk di tujuh satu? Atau kayanya itu kelas anak-anak yang nemnya tinggi, DAN AKU? Kalo dibilang gitu, jadinya nem aku yang paling rendah. soalnya AKU NYASAAAR. Waktu mos di di tujuh dua, eh waktu pengumuman pembagian kelas nama aku ada di tujuhsatu.
Hari pertama aku kaya orang bego (banget) celingak-celinguk gak jelas, nyari temen buat duduk. HUAAA MAMA! GA KENAL SATU ORANGPUN TT akhirnya ada satu cewek yang aku lihat, disapa dong hihi “Hei duduk bareng yuk?” dia langsung jawab, agak kaget sih “Yuk!” Kita kenalan deh ternyata namanya Rahmadian Chairawati. Dia jadi temen pertama aku di kelas.

Beberapa menit habis itu, ada guru yang masuk. Kalo ga salah waktu itu kita disuruh bikin sebuah pengalaman deh, ngarang bebas gitu. Nah, ada temen sebelah anak di seberang meja aku (ribet kali deh --‘) ngasih kertas, nah loh? Naluri bego mencuap jiahaha, ternyata kertasnya buat Rahma. Eh si Rahma sama tuh anak sibuk ngirim-ngirim kertas bolak-balik, -___________- alhasil aku kaya tukang pos jadinya. Hari itu sebel banget sama anak sebrang itu. Ternyata dia adalah GRAMINDA DALILAH AYUNI dan yang tepat di sebrang aku LARISA RAHANA PUTRI. Yap merekalah teman pertama aku di tujuh satu. Walaupun agak menjengkelkan.

Rumah Kucing

Seekor kucing bercorak hitam dan berbulu putih mendekatiku, ia menatapku dan aku membalas tatapannya. Langsung kubuka pagar dan berlari ke rumah. Aku mengambil piring dan memberi nasi beserta menu hari itu, ikan panggang. Kusisihkan tulang-tulang dan daging di piring itu. Aku berlari keluar lagi tanpa sempat membuka sepatu dan meletakkan tas. Kuletakkan nasi tadi di atas sebuah wadah yang ada di teras, dan kupersilakan kucing itu makan. Aku memperhatikan kucing itu, sungguh lahap ia menyantap nasi yang kuberikan. Ia menoleh dan bersuara dengan sederhana, “Miiauw…” Di setiap langkah, aku masih mengamati sekitar. Memastikan tidak ada kucing lain. Waspada dari kucing-kucing ‘garong’ bertampang ‘garing’ yang sering mengganggu kucing-kucing ‘awam’ seperti kucing ini.
***
            “Ma, kucingnya punya anak lagi!” seruku keluar dari gudang. “Iya, kemarin dia melahirkan. Anaknya ada tiga ekor.” Sahut mamaku menjelaskan. Aku merasa senang karena kini temanku bertambah. Ya, kucing itu adalah temanku di rumah. Daerah sekitar rumahku ini memang sering sepi. Bisa dikatakan ini komplek sibuk. Dengan orang-orang yang tidak punya sedikit pun waktu luang, tidak hanya untuk orang dewasa, anak-anak seperti aku pun senasib.
            Sudah 2 minggu aku perhatikan tingkah laku ketiga anak kucing itu. Ketiga anaknya itu hanya tidur di saat kucingku pergi. Mereka tidak macam-macam. Karena anak kucing itu hanya tidur saja, aku membawa ketiga anak kucing itu bermain di teras, supaya mereka bisa mendapat udara lebih banyak dan tempat yang lebih luas. Aku suka ini!
Ada satu hal yang membuat aku heran, anak kucing itu tampak sangat susah untuk berjalan, setiap kali mereka mencoba berdiri dan kemudian berjalan, kaki-kaki mereka selalu saja bergetar dan tergoyang, padahal mereka sudah besar dan tidak sepantasnya mereka belum bisa berjalan normal seperti anak kucing yang lainnya.
“Hei, kamu kegendutan ya sampai-sampai gak sanggup lagi jalan?” tanyaku pada anak-anak kucing itu, meskipun sebenarnya mereka tidak mengerti. Dan akhirnya aku  rutin membawa anak-anak kucing itu bermain di teras.
Setelah tiga hari, akhirnya ketiga anak kucing itu sudah bisa berjalan normal layaknya anak-anak kucing lain.
***
Malam itu kucingku sedang bermain-main bersama ketiga anaknya. Aku melihat 5 orang anak laki-laki berhenti di depan pagar rumahku. Mereka membawa sesuatu. Dan kemudian mereka melepaskannya. Benda itu tampak bergerak, berpindah tempat dengan sangat cepat. “Apa itu?” mataku fokus memperhatikan benda itu. Benda itu berlari dengan kaki-kaki kecilnya. Satu, dua, tiga, ada tiga kaki. “Alien? Siluman?” heranku. Oh tidak, ada empat kaki-kaki kecil yang hitam. Melihat hal itu aku segera bergegas menuju teras. “Mmm, cuma tiga ekor.” Ucapku menoleh ke arah anak-anak kucingku. Mataku lebih teliti lagi menangkap semua gerak-gerik yang ada di teras. Ada yang bergerak lagi. Aku menoleh ke arah anak-anak kucingku lagi. Di sana ada tiga ekor. Lalu yang tadi? Benda yang kuamati tadi telah hilang. Apa mungkin? Aku kembali mengamati. Oh, ini dia! Hitam, dengan empat kaki-kaki kecilnya yang berlindung di kakiku. Seekor anak kucing ternyata. Berarti  anak-anak tadi membawa anak kucing ini kemari, dan itu benda yang aku amati tadi.
Kini anak kucingku ada empat ekor, apa boleh buat. Semuanya kuberi nama. Tian, untuk anak kucing yang paling lincah, corak bulunya mirip Dalmatian. Yang kedua Utih untuk anak kucing yang bulunya dominan dengan warna putih. Lalu Ocklat untuk anak kucing yang paling gendut, beratnya hampir 600 gram, warna bulunya campuran antara putih dan coklat. Dan yang terakhir, Item untuk kucing yang bulunya berwarna hitam, dengan sedikit warna putih. Dia adalah anak kucing yang ditinggalkan di sini.
Siang itu, sepulang sekolah baru saja aku membuka pagar, aku langsung mencari kucingku dan keempat anaknya. Di balik pot bunga, aku melihat kucing-kucing itu, mungkin sekitar dua menit lagi ia akan tertidur pulas. Aku menghitung anak kucing di balik pot itu. “Satu, dua, tiga, hmm… mana Item?” tanyaku.
Menyadari Item tidak di sana, aku bergegas membuka sepatu dan meletakkan tas di kamar. Berlari menuju teras dan langsung mencari Item. Ada sesuatu yang bergerak di balik rumput di ujung teras. Tanpa pikir panjang, periksa dan segera temukan Item. Itu yang aku lakukan. Untunglah, ia di balik rumput itu sedang bermain dengan seekor anak kucing, “Anak kucing? Apa?” seruku terkejut memperhatikan apa yang aku lihat. Ya, yang sedang bermain dengan Item adalah kucing kecil yang berbulu oranye keemasan. Oh, tak apalah. Mungkin itu temannya.
Tapi sesuatu yang lain terjadi. Malam ini, kucingku sangat-sangat sibuk. Ada apa? Pikirku dalam hati. Ocklat, Utih, Tyan, Item, dan siapa nama yang satu ini? Tanyaku  lagi. Apa aku lupa memberinya nama? Tidak. Dia bukan anak kucingku. Dia adalah kucing kecil yang tadi siang bermain dengan Item. Tapi mengapa ia tak pulang? Apa ia lupa rumahnya?
Untuk malam itu aku biarkan kucing itu menginap. Tapi, sudah lima hari ia di sini. Ia tak juga pulang-pulang. Lalu? Bagaimana ini? Ada lima ekor anak kucing. Enam, ditambah induknya. Ya ampun, rumahku sudah seperti rumah kucing.