Sabtu, Januari 01, 2011

Rumah Kucing

Seekor kucing bercorak hitam dan berbulu putih mendekatiku, ia menatapku dan aku membalas tatapannya. Langsung kubuka pagar dan berlari ke rumah. Aku mengambil piring dan memberi nasi beserta menu hari itu, ikan panggang. Kusisihkan tulang-tulang dan daging di piring itu. Aku berlari keluar lagi tanpa sempat membuka sepatu dan meletakkan tas. Kuletakkan nasi tadi di atas sebuah wadah yang ada di teras, dan kupersilakan kucing itu makan. Aku memperhatikan kucing itu, sungguh lahap ia menyantap nasi yang kuberikan. Ia menoleh dan bersuara dengan sederhana, “Miiauw…” Di setiap langkah, aku masih mengamati sekitar. Memastikan tidak ada kucing lain. Waspada dari kucing-kucing ‘garong’ bertampang ‘garing’ yang sering mengganggu kucing-kucing ‘awam’ seperti kucing ini.
***
            “Ma, kucingnya punya anak lagi!” seruku keluar dari gudang. “Iya, kemarin dia melahirkan. Anaknya ada tiga ekor.” Sahut mamaku menjelaskan. Aku merasa senang karena kini temanku bertambah. Ya, kucing itu adalah temanku di rumah. Daerah sekitar rumahku ini memang sering sepi. Bisa dikatakan ini komplek sibuk. Dengan orang-orang yang tidak punya sedikit pun waktu luang, tidak hanya untuk orang dewasa, anak-anak seperti aku pun senasib.
            Sudah 2 minggu aku perhatikan tingkah laku ketiga anak kucing itu. Ketiga anaknya itu hanya tidur di saat kucingku pergi. Mereka tidak macam-macam. Karena anak kucing itu hanya tidur saja, aku membawa ketiga anak kucing itu bermain di teras, supaya mereka bisa mendapat udara lebih banyak dan tempat yang lebih luas. Aku suka ini!
Ada satu hal yang membuat aku heran, anak kucing itu tampak sangat susah untuk berjalan, setiap kali mereka mencoba berdiri dan kemudian berjalan, kaki-kaki mereka selalu saja bergetar dan tergoyang, padahal mereka sudah besar dan tidak sepantasnya mereka belum bisa berjalan normal seperti anak kucing yang lainnya.
“Hei, kamu kegendutan ya sampai-sampai gak sanggup lagi jalan?” tanyaku pada anak-anak kucing itu, meskipun sebenarnya mereka tidak mengerti. Dan akhirnya aku  rutin membawa anak-anak kucing itu bermain di teras.
Setelah tiga hari, akhirnya ketiga anak kucing itu sudah bisa berjalan normal layaknya anak-anak kucing lain.
***
Malam itu kucingku sedang bermain-main bersama ketiga anaknya. Aku melihat 5 orang anak laki-laki berhenti di depan pagar rumahku. Mereka membawa sesuatu. Dan kemudian mereka melepaskannya. Benda itu tampak bergerak, berpindah tempat dengan sangat cepat. “Apa itu?” mataku fokus memperhatikan benda itu. Benda itu berlari dengan kaki-kaki kecilnya. Satu, dua, tiga, ada tiga kaki. “Alien? Siluman?” heranku. Oh tidak, ada empat kaki-kaki kecil yang hitam. Melihat hal itu aku segera bergegas menuju teras. “Mmm, cuma tiga ekor.” Ucapku menoleh ke arah anak-anak kucingku. Mataku lebih teliti lagi menangkap semua gerak-gerik yang ada di teras. Ada yang bergerak lagi. Aku menoleh ke arah anak-anak kucingku lagi. Di sana ada tiga ekor. Lalu yang tadi? Benda yang kuamati tadi telah hilang. Apa mungkin? Aku kembali mengamati. Oh, ini dia! Hitam, dengan empat kaki-kaki kecilnya yang berlindung di kakiku. Seekor anak kucing ternyata. Berarti  anak-anak tadi membawa anak kucing ini kemari, dan itu benda yang aku amati tadi.
Kini anak kucingku ada empat ekor, apa boleh buat. Semuanya kuberi nama. Tian, untuk anak kucing yang paling lincah, corak bulunya mirip Dalmatian. Yang kedua Utih untuk anak kucing yang bulunya dominan dengan warna putih. Lalu Ocklat untuk anak kucing yang paling gendut, beratnya hampir 600 gram, warna bulunya campuran antara putih dan coklat. Dan yang terakhir, Item untuk kucing yang bulunya berwarna hitam, dengan sedikit warna putih. Dia adalah anak kucing yang ditinggalkan di sini.
Siang itu, sepulang sekolah baru saja aku membuka pagar, aku langsung mencari kucingku dan keempat anaknya. Di balik pot bunga, aku melihat kucing-kucing itu, mungkin sekitar dua menit lagi ia akan tertidur pulas. Aku menghitung anak kucing di balik pot itu. “Satu, dua, tiga, hmm… mana Item?” tanyaku.
Menyadari Item tidak di sana, aku bergegas membuka sepatu dan meletakkan tas di kamar. Berlari menuju teras dan langsung mencari Item. Ada sesuatu yang bergerak di balik rumput di ujung teras. Tanpa pikir panjang, periksa dan segera temukan Item. Itu yang aku lakukan. Untunglah, ia di balik rumput itu sedang bermain dengan seekor anak kucing, “Anak kucing? Apa?” seruku terkejut memperhatikan apa yang aku lihat. Ya, yang sedang bermain dengan Item adalah kucing kecil yang berbulu oranye keemasan. Oh, tak apalah. Mungkin itu temannya.
Tapi sesuatu yang lain terjadi. Malam ini, kucingku sangat-sangat sibuk. Ada apa? Pikirku dalam hati. Ocklat, Utih, Tyan, Item, dan siapa nama yang satu ini? Tanyaku  lagi. Apa aku lupa memberinya nama? Tidak. Dia bukan anak kucingku. Dia adalah kucing kecil yang tadi siang bermain dengan Item. Tapi mengapa ia tak pulang? Apa ia lupa rumahnya?
Untuk malam itu aku biarkan kucing itu menginap. Tapi, sudah lima hari ia di sini. Ia tak juga pulang-pulang. Lalu? Bagaimana ini? Ada lima ekor anak kucing. Enam, ditambah induknya. Ya ampun, rumahku sudah seperti rumah kucing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar